Archive for the ‘Willy Permana's irrelevant stories’ Category

Kapan tiba waktu itu

Thursday, August 19th, 2010

Disana kau
Bergelimang cahaya
Dikelilingi cinta

Disini aku
Menggapai-gapai dalam gelap
Sepi sendiri

Kapan jalan kita bersilangan?
Kapan dunia kita bersinggungan?

*ditulis sambil nungguin sedotan 93 paket dependensinya lazarus kelar*


SMS berantai: dakwah atau nyumpah?

Monday, August 16th, 2010

Pernah menerima sms model begini di beberapa hari awal Ramadhan ini?

“jgn bngga dgn jas & brdasi,krn pkaian trkhir qt adlh kain kafan
jgn bngga dgn mobil & mtor,krn kndraan trkhir qt adlh keranda
jgn bngga dgn rmh & istna,krn tmpt peristrhtan trkhr qt adlh kuburan
jgn bngga dgn kcntikn & ktmpnnan,krn akhrnya hanya jd sntapan cacing tnah

z bersumpah demi ALLAH SWT,demi islam & demi ajaran yg bnar ni,
z akan menyebarkan SMS ini k.15 teman zy ..
apabila zy mlanggar zumpah zy ini,mka musibah kan slalu mnimpa zy ..
z slalu gagal dlam usaha & cita”.ku takkan prnah trwujud ..

anda sdah berNAZAR ..
[ sama" cri aman ]
don’t send back_”

SMS ini cuma saya forward satu kali (alih-alih 15), yaitu kembali ke pengirimnya, dengan tambahan catatan “I’m sending it back & won’t forward it to others“. Tentu saja si pengirim menuntut penjelasan kenapa saya tidak mengikuti instruksi di SMS (ada statement tersembunyi, downline harus ikut instruksi atau upline turut kena musibah? :P ).

Sederhananya, saya pikir walau bawa-bawa agama yang namanya sms berantai model ginian cuma omong kosong. Saya sudah kenyang (dan muak) mendapat pesan berantai, baik dalam bentuk sms maupun e-mail. Entah ceramah dari Imam di Mekkah, kotbah Uskup Agung Indonesia, wangsit Mbah Suraji di Gunung Kemukus, permainan tebak-tebakan nama awal calon istri, foto bayi terlahir cacat (seluruhnya dengan tambahan klaim “pokoknya kalau gak lu sebarin, cilaka 7 turunan lu” atau sejenisnya), saya ndak percaya yang beginian. Tak pernah saya sebarkan massal kembali. Yang berarti masa depan saya sungguh porak peranda gelap gulita tak ada harapan, menurut entah-berapa-banyak pesan berantai yang pernah saya terima :P .

Balik lagi ke sms di atas, kalau memang niatnya mau saling mengingatkan, ndak perlulah pakai sumpah-sumpahan. Kalau katanya orang masjid dekat rumah, ini gawe ndak beres. Masa berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, tapi nyumpahi orang kena musibah? Selain itu yang seperti ini kan tabiat buruk; kalau celaka mesti seret orang lain ke lubang yang sama (dengan jebakan pula).

Lagipula sumpah kok gak mutu gitu, “saya bersumpah akan menyebarkan sms ini”, hehehe….


Calo sux

Friday, August 13th, 2010

Ini cerita waktu balik dari Blankonf #2 kemarin.

Saya tiba di Bandara Soekarno Hatta selepas maghrib, tak sempat mengejar pesawat terakhir ke Pangkalpinang. Gara-garanya salah perhitungan, saya kira bus yang saya tumpangi dari Surabaya sampai di Pulo Gadung siang hari, rupanya molor hingga jam 5 sore. Apa boleh buat, terpaksa menginap di pelataran terminal 1A. Tapi sebelumnya, beli tiket dulu untuk penerbangan esok harinya.

Ini bagian yang menjengkelkannya; dicegat calo di tiap sudut. “Medan, pak? Surabaya, pak? Makassar, pak? Bali, pak?”. Duh, saya mau ke Pangkalpinang, tauk. “Pangkalpinang sudah nggak ada lagi hari ini, pak. Ke Palembang saja, kan dekat”. Dodol!

Paling empet pas saya masuk ruang reservasi L**n Air. Ada bapak-bapak mau pesan tiket ke Medan, oleh petugas dibilang sudah habis. Ealah malah sekuritinya sendiri yang nyalo, menawarkan tiket penerbangan terakhir hari itu dengan banderol 2 juta rupiah. Saya tak tahu kelanjutan transaksi tersebut, buru-buru minggat setelah pegang tanda pembelian tiket.

Jadi, kalau lihat spanduk berantas calo di Bandara Soekarno Hatta, saya mah lihatnya sinis saja.

Omong-omong, tiketnya L**n Air mengenaskan sekali, hanya secabik kertas tipis. Karena kelas Ekonomi kali ya…


Sekem dunia maya

Monday, July 5th, 2010

Barusan baca cerita pak Amal soal usaha penipuan via Internet. Yang punya akun e-mail mestinya sudah lazim mengalami ini; tiba-tiba orang tak dikenal mengabarkan kita mendapat rezeki nomplok, entah menang undian, warisan dari kerabat jauh, atau kongkalikong melawan “sanak famili” yang jahat. Dalam dollar, bukan rupiah.

Dari sekian motif di atas, saya pikir yang tidak mempan bagi orang Indonesia adalah “warisan dari kerabat jauh”. Habisnya rata-rata orang Indonesia kenal sanak famili hingga 5-6 lapis mendatar. Misal, anak sepupunya istri paman kakek? Ya, si Bejo. Jadi kalau seorang pejabat bank Ghana bilang ada rekening berisi $20,000,000 milik saudara yang tewas waktu tsunami Aceh kemarin, orang Indonesia biasanya sudah cium bau-bau tak beres. Kalau motif lainnya saya ndak ngerti, tapi kalau urusan duit banyak, dollar pula, biasanya mata langsung ijo dan akal sehat berhenti berputar.

Makanya wawasan mesti terbuka, biar ndak kena tipu-tipu begitu. Model Nigerian scam ini bukan hanya menguras duit, salah-salah nyawa juga bisa melayang.


Kalau kejenuhan mencapai titik maksimal

Sunday, June 27th, 2010

Ini cerita Sabtu kemarin. And beware, ini postingan amat-tak-penting.

Mulai dari pagi saya sudah ndak mood untuk apapun. Mau lanjutin codingan rasanya malas, jadi saya nyalain Exaile. Dengarin lagu sebentar, terus dimatiin. Bosen. Jadi angkut si bebek keluar cari bahan potretan. Ngider-ngider keliling kota, ndak ada jepretan yang cocok di hati. Balik kandang, nonton TV sebentar, ndak ada acara yang bagus. Akhirnya tidur siang.

Cuma tidur satu jam-an, bangun, lalu nyalain komputer lagi, masih rasa malas. Akhirnya keluar cari warnet. Ngeplurk dan FB sebentar, tapi ndak ada gairah, akhirnya muter-muter lagi. Sempat lihat gerhana sebentar, sms-in teman-teman mengabarkan ada gerhana, pura-pura excited. Tapi mood nge-drop lagi, keliling lagi. Akhirnya niat merusuh ke kos teman. Ngobrol ngalor-ngidul sebentar (sorry for not crashing your place properly, Boy :P ), lalu minggat. Sampai di rumah, lihat di TV ternyata Korsel sudah ketinggalan 1-0, dan akhirnya takluk 2-1 di tangan Paraguay. Makin bete dan suntuk.

Pagi ini bangun dengan perasaan segar. Looks like yesterday is one of that day when everything feels negative. But whatever, it’s in the past now.

*NB: benernya sih ini lagi bete karena dari Jum’at fitur multi-site WordPress 3.0 belum berhasil dijalankan di localhost*


Diproteksi: Blingsatan

Saturday, May 29th, 2010

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:



Reunion

Tuesday, May 18th, 2010

Beberapa hari yang lalu saya bertemu seorang kawan lama. Dia menyapa saya dengan nama depan saya, “Hei ******.” Saya menyapa balik “Hai, bung.” Sengaja tidak menyebut nama, karena saya benar-benar lupa siapa dia. Tidak sopan? Lha habis gimana, wajahnya sama sekali tidak saya kenali.

Bukan sekali ini saja saya mengalami kejadian begini. Sering. Kalau ketemu kawan lama, dan saya ndak ingat siapa dia, biasanya saya terlalu gengsi untuk menanyakan namanya. Masih mending kalau di awal obrolan si teman bilang “Ini aku lho, [nama-kawan]“. Tapi kalau sudah ngobrol ngalor-ngidul, dan saya terus-terusan memanggil “bung” atau “non”, si kawan barulah sadar kalau saya tidak mengenali dia, dan bertanya “Kamu ndak ingat ya, saya ini siapa? [nama-kawan]“. Oalaaaaah, kamu toh….

Memang sebagian besar membuat pangling. Yang dulunya berwajah bulat lucu, sekarang sudah persegi brewokan. Yang dulunya kulitnya sawo matang, sekarang putih mulus bak model. Yang dulunya pendek gempal menjurus gemuk, sekarang tinggi berotot. Yang dulunya penampilan preman, sekarang kemana-mana pakai baju koko. Yang dulunya urakan dan doyan pakai celana panjang jeans baggy sobek-sobek, sekarang jadi ibu-ibu kalem berjilbab, dan pakai rok panjang! Gimana saya ndak merasa asing, coba?

Yang bikin saya tidak habis pikir, mereka kok bisa mengenali saya dalam sekejap? Ini pertanda buruk. Karena berarti, dari dulu ternyata kadar ketidakgantengan saya tidak berkurang juga….


Pertanyaan yang membuat jengkel

Monday, April 12th, 2010

Ini pertanyaan-pertanyaan sepele (setidaknya menurut saya) yang seharusnya tidak perlu ditanyakan tapi toh orang-orang tetap saja menanyakannya ke saya. Kalau di Twitter mungkin hashtag-nya #questionyouhate :D

  • Kamu muslim/kristen?
  • Yang menanyakan ini biasanya baru kenal dengan saya. Bisa dimaklumi, mengingat nama saya tidak jelas mengindikasikan apa agama saya. Dua adik saya juga sepertinya sering ditanya begini (dengan alasan yang sama). Dulu saya sudah kebal ditanya beginian, tapi akhir-akhir ini mulai jengkel lagi. Biasanya saya menjawab pertanyaan ini dengan

    • “pengikut Lia Eden”
    • “Scientology”
    • diam saja sambil berusaha memasang senyum paling manis :D
  • Sudah kawin belum?
  • Nikah, tauk!
    Yang menanyakan ini biasanya para *kenalan* yang baru bersua lagi setelah terpisah sekian lama. Saya bilang “kenalan”, bukan “teman”, karena mereka yang benar-benar mengenal saya tahu kalau dulunya saya tidak berminat dengan urusan cinta-cintaan, let alone marriage. I prefer to be single. Bebas, tanpa ikatan, tidak perlu menyerahkan sebagian/seluruh waktu pribadi pada seorang gadis.

    Saat sekarang sih mungkin lain perkara <3

  • Kamu Chinese, ya?
  • Baru-baru ini saja sering ditanya begitu, juga oleh orang-orang yang baru kenal. Yang ini saya sama sekali tidak paham kok bisa-bisanya mereka berasumsi saya Chinese. Item begini kok saya :D


    Hitung-hitungan ngasal

    Monday, March 15th, 2010

    Pagi Siang ini melihat respon dari sebuah plurk-nya mas Fahmi, dan segera saja saya menyambutnya dengan hitung-hitungan ngasal. Tapi lama-lama jadi penasaran juga, apa benar jumlah orang yang bekerja di perusahaan rokok mencapai puluhan juta?

    Sayang hasil pencarian di Google sama sekali tidak memuaskan, walau sudah memasukkan berbagai macam kata kunci. Akhirnya berharap data dari Depnakertrans. Lumayanlah, dapat juga data kasarnya (yang artinya harus mengira-ngira lagi).

    Kita asumsikan industri rokok itu termasuk industri pengolahan (seperti halnya industri makanan dalam kemasan, sabun, kertas dll). Jumlah pekerja di subsektor ini “hanya” sekitar 12.400.000 orang (data tahun 2008). Dengan jumlah “hanya” segitu, dan banyaknya jenis industri yang bisa dikategorikan dalam subsektor ini, masa iya sih pekerja industri rokok jumlahnya puluhan juta? :wink:


    Diproteksi: Mencoba protected post

    Thursday, February 25th, 2010

    Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini: